Main Article Content

Tri Sutrisno

Abstract

Akhir-akhir ini konsentrasi pemerintah seolah terkuras dengan fenomena dekadensi moralitas bangsa. Membangun karakter bukanlah sesuatu yang mudah, juga tidak teramat sulit, membutuhkan proses, strategi dan koordinasi. Pendidikan merupakan wahana peserta didik untuk memperoleh layanan pembentukan karakter. Pendidikan karakter seyogyanya dilakukan sejak usia dini atau selambat-lambatnya dibangku sekolah dasar (SD). Diusia inilah seseorang dapat dengan mudah dibentuk, diarahkan dan dibina sesuai keinginan. Pendidikan juga terus melakukan perubahan, yang semua itu bermuara terhadap pembentukan karakter siswa. Akhir-akhir ini, program penguatan pendidikan karakter (PPK) bentukan Mendikbud menjadi dambaan besar dari pengembangan karakter anak. Sebagai inti dari kegiatan pendidikan karakter adalah pembelajaran yang menyesuaikan dengan kondisi anak. Pembelajaran dirancang tidak hanya melejitkan ranah kognitif saja, tetapi juga ranah afektif, yang terdiri dari pengembangan emosi, sosial dan spiritual (karakter). Sebagai pendukung utama dalam pendidikan karakter, layanan BK juga mempunyai peran strategis menemani anak dalam mengembangkan karakter positif. Sekolah adalah komponen dari beberapa individu yang mempunyai visi terselenggaranya pendidikan secara efektif. Efektifitas dari pendidikan saat ini adalah, mampu mengembangkan karakter positif anak ditengah mencuatnya krisis moral pada generasi bangsa.

Article Details

References
Depdiknas. 2007. Rambu-Rambu Penyelenggaraan Pendidikan Profesional Konselor. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Jakarta.
Elmubarok, Zaim. 2009. Membumikan Pendidikan Nilai. Mengumpulkan yang terserak,menyambung yang terputus dan menyatukan yang tercerai. Alfabeta.
Bandung
ERIC Resource Center ED475389 2003 -06-00 Character Education: What Counselor
Educators Need To Know. ERIC/CASS Digest. www.eric.ed.gov.
Fathul Mu’in. 2011. Pendidikan Karakter, Konstruksi Teoritik dan Praktik. Ar-Ruzz Media. Jogjakarta.
Jalal, Supriyadi. 2001. Reformasi pendidikan dalam konteks otonomi daerah. Rajawali. Jakarta.
Khan, Yahya. 2010. Pendidikan Karakter Berbasis Potensi Diri. Pelangi Publising. Yogyakarta.
Lickona, Thomas. 1991. Educating for character:how our school can teach respect and responsibility. Bantam Books. New York.
Megawangi, Ratna. 2007. Pendidikan karakter solusi yang tepat untuk membangun bangsa. Cetakan ke dua (revisi). Indonesia Heritage. Bogor.
Muhtadi, Ali. 2011. Implementasi pendidikan karakter dalam kurikulum sekolah. Tersediadihttp://staff.uny.ac.id/sites/default/files/tmp/Implementasi%20Pendidikan%20karakter%20dalam%20kurikulum%20di%20sekolah.pdf. Diakses tanggal 10 Juni 2016.
Musfiroh,Tadkiroatun.2008. Pengembangan Karakter Anak Melalui Pendidikan Karakter. Tinjauan Beberapa Aspek Character Building. Kerjasama Lembaga Penelitian Unversitas Negeri Yogyakarta dan Tiara Wacana. Yogyakarta.
Nuh, Mohammad. 2010. Kerangka Acuan Pendidikan karakter Tahun Anggaran 2010. Dirktorat Ketenagaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan Nasional
Sadiyo. 2001. Kurikulum pendidikan kewarganegaraan berbasis kompetensi – jurnal ilmu pendidikan no 4 jilid 8 halaman 271 – 281.
Sopiani, Ani. 2012. Sukses Menjadi Pendidik Karakter Siswa.. Literatur Media Sukses. Depok

Berita online:
Tersedia di
http://surabaya.tribunnews.com/2016/06/01/4-siswa-pembakar-21-rapor-dan-data-nilai-sepakat-dibina. Diakses tanggal 30 januari 2017.
Tersedia di
http://news.okezone.com/read/2017/01/16/65/1592912/pendidikan-karakter-dimulai-tahun-ajaran-2017. Jakarta. Diakses tanggal 30 Januari 2017
Tersedia di http://www.tribunnews.com/nasional/2016/12/30/tahun-2017-mendikbud-genjot-penguatan-pendidikan-karakter. Surabaya. Diakses pada tanggal 30 Januari 2017.